Friday, May 25, 2007

Watercloset

Aku memulai hidup yang sesungguhnya di Jaman Nagabonar.
Jaman ketika seorang Asrul Sani memaki dirinya dan
memerintahkannya berhenti berpikir.
Pikiran hanya akan bikin pusing dan pontang-panting.
Bukan saja bagi sang Bujang, bawahan kesetiaan,
utamanya bagi sang Komandan, jenderal rekaan.

Berhentilah berpikir.
Gantikan kepintaran dan wawasan dengan kelicikan dan kenekatan.
Nyatanya kebijakan tidak memerlukan keruwetan pertimbangan.
Sederhana,
sangat sederhana.
Apa perlunya, apa maunya? Putuskan!
Demikian kebijakan.
Yang demikian ini tidak perlu dipertanyakan.
Jika toh ada pertanyaan, dapatkan apa saja, dimana saja dan kapan saja
sebagai jawaban dan alasan.
Tidak puas dan masih bertanya? Bereskan!
Sederhana,
sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua.
Mengapa dua?
Memang begitu sudah dari mulanya.
Tidak begitu, salah.

Jaman itu adalah jaman ketika orang-orang kebanyakan harus menerima
kepantasan ke-demi-an.
Demi perjuangan, demi pembangunan, demi kemajuan, demi kemandirian
dan demi sesuatu yang demikian.
Mengapa harus bertanya tentang harga-harga
yang tidak pernah diturunkan seperti tuntutan yang dijanjikan,
sebab satu ditambah satu sama dengan dua.
Tetaplah saja, selayak tetap tiadanya penghargaan akan limpahan beras,
jagung, palawija, ayam, bebek, kambing, sapi, kerbau, sawah, ladang,
hutan, sungai, gunung-gunung dan lautan.

Kebijakan tidak ubahnya permainan catur bertaruhkan puteri amtenaar antar
dua sekawan bersaingan: Jenderal Nagabonar dan Jenderal Mariyam.
Keterbukaan bidak-bidak berperhitungan setara kejujuran dan kegembiraan
berubah
menjadi kelicikan, pertikaian dan pistol-pistolan.
Tiada bentang ruang tersisa kecuali untuk sepasang kursi dan sepancang tiang
yang mengibarkan kepongahan,
mendudukkan kekebalan dan
menyerukan perintah komandan di sela buruan seribu peluru.
: “Tetaplah maju, walau mati seribu dan tumbuh satu.”

(000)

Yang satu itu kini menjadi batu.
Bilangan seribu adalah berjuta-juta kabur diantara debu,
diabaikan dan ditanggalkan.
Pertanggunggjawabannya?
Selintutan.
Asal tidak ditahu, pasti tidak ditanya.
Seandai ada yang tahu tidak akan berani menyapa, sebab
pasti akan didiamkan saja.
Ini akan membikin kerepotan.
Keputusannya: “Bereskan!”
“Siap, jalankan.”
Brok-brok, gedobrak-brok!
Tersembunyi, diam-diam.

Jangan tinggalkan jejak, walau sebiji bayam pun.
Sebiji bayam yang tercecer akan tumbuh sebagai penanda.
Demikian pepatah jaman.
Masa ketika nyali ditegakkan tanpa budi-pekerti dan istiadat kemanusiaan.
Sebiji bayam pun tercecer lupa,
daripada berangkai, harus ada yang dikorbankan.
Kemudian umumkan kepada khalayak, bahwa
konstitusi harus ditegakkan demi ketertiban, keamanan, ketenteraman, kemajuan dan kelangsungan kemapanan.

Penyimpangan dan keteledoran telah ditindak sebagai pecundang dan dibelusukkan.
Korupsi, manipulasi, subversi atau kriminal
itu sebutan
atas pertimbangan tingkat kerawanan kepentingan dan keamanan kemapanan. Boleh jadi urusannya semata sopan-santun bawahan dan ketersinggungan atasan.
Yang penting,
pada khalayak ditunjukkan kesungguhan penegakan konstitusi,
peraturan dan perundangan.
Pertunjukkan kesungguhan niatan menciptakan kebersihan
penyelenggaraan segala urusan.
Biar khalayak tahu, mengerti, memahami, menerima dan terpuaskan
bahwa konstitusi ditegakkan,
bebersih dilakukan.
Tak peduli memang,
apa khalayak sungguh begitu atau pura-pura karena terpaksa dan ketakutan.
Sesungguhnya keadaan dalam ancaman.

Hidup di jaman itu seperti hidupnya ikan dalam akuarium.
Transparan tanpa keleluasaan.
Segenap daya dicurahkan untuk pikiran tentang kebulatan yang utuh,
bulat-bundar.
Impiannya menggelinding pesat.
Lesat!
berjalan tanpa hambatan.

Berhentilah berpikir,
karena pikiran memang tidak diperlukan.
Kesetiaan yang diutamakan sebagai kebutuhan.

Kesetiaan itu hanya ada diantara orang-orang yang ditahu,
bahwa mereka tahu.
Ada diantara orang-orang yang diterima,
bahwa mereka pun menerima.
Tahu sama tahu, terima saling terima.
Kesetiaan dituntun oleh persamaan dan persinggungan kepentingan.
Ia berada diantara para suami-isteri, anak-cucu, sanak-famili,
teman seperuntungan dan para beli-bayaran.
Persembunyiannya ada di balik pensakralan kebersamaan,
kegotongroyongan dan kekeluargaan.
Semua mudah dibicarakan.
Kuncinya: jangan keterlaluan dan jangan kelihatan.

Pikiran memang tidak diperlukan, sebab terlalu merepotkan.
Ia dapat menggiring khalayak pada keluasan wawasan,
ketajaman pandangan, kedetilan kecermatan,
kepintaran dan keberanian.
Ini akan memancing keributan,
mengharu-biru kemapanan.
Bagian-bagian yang tercecer dan ditanggalkan akan kelihatan, juga
tentang banyaknya pikiran tajam dan
kepentingan kaum kebanyakan telah diabaikan.
Sebab
demi keutuhan,
demi kecepatan perjalanan
yang menggelinding lesat dalam kendali tanpa pengendalian.
Pikiran dan kepentingan kaum kebanyakan itu keasingan,
hambatan dan penyebab ketertinggalan.

Permainan kartu truf pun diselenggarakan di atas meja judi tanpa taruhan,
karena yang mestinya dipertaruhkan sudah tergadaikan kepada
para tamu luar dan para undangan.
Orang-orang pun duduk melingkar
dengan secawan anggur yang diminum secara bergantian..
Trufnya adalah: kekuasaan.

(000)

Aku adalah sepersekian sen diantara jutaan sepersekian sen
dalam bilangan yang tercecer dan kabur diantara debu-debu.
Bukan karena pikiran,
bukan pula karena keberanian atau kepentingan.
Begitu sudah keadaannya.
Kesepakatan jaman begitu jelasnya,
pembagian dan bilangan pecahan tidak diterimakan.

Jangan berbilang sen, ketip, tali atau ringgit
sedang bilangan satuan, belasan, lawean maupun eketan
pun sudah tidak diperhitungkan.
Maka,
turunkan barang dan hasil kerjamu di lantai dasar,
mereka akan menaikkan harganya di atap balkon.
Kita pun tidak pernah tahu siapa pembeli dan pemborongnya.
Itu dimaklumkan sebagai bukan urusan kita
yang berada dalam perhitungan sepersekian sen yang tercecer dan diabaikan.

Konon pembeli dan pemborongnya adalah para tamu luar,
undangan dan diantara mereka yang duduk melingkari secawan anggur
dan meminumnya secara bergantian
sambil berjudi tanpa taruhan.
Mengapa harus bertanya tentang pekerjaan dan penghidupan?
Negeri ini penuh kelimpahruahan dan kegembiraan.
Mitos murahan! Tidak.
Nyatanya?
Tamu luar dan para undangan itu begitu sudi berdatangan
dan memetik kesenangan.
Mereka lakukan apa saja,
dari eceran sampai borongan,
urusan memetik sampai berpabrik,
bahkan menjual kata-kata dengan sedikit pikiran sederhana.

Ini adalah tanah yang diperjanjikan.
Mereka pun berdatangan, sedang
di tempat asalnya mereka belum mendapat peruntukan
atau sudah tidak diperlukan.
Relokasi!
Cukup dengan sedikit wang untuk hidup dan kesenangan,
menumpuk tabungan untuk dipulangkan.
Sekalipun beranak pinak kaum sepersekian sen,
cukuplah dengan setanam kayu, setunas bambu dan sejumput batu.
Menyuap angin dan membuat kolam susu bagimu,
para utama, tamu luar dan semua undangan.

Sesuap angin itu, kami terus memakannya.
Ini urusan sepersekian sen yang jutaan,
tercecer dan ditanggalkan.
Bukan urusan satu bulat-bundar yang dipermuliakan.

Sesuap angin itu telah menjadi nasi dan tahi.
Sehingga sepersekian sen bertanya
bukan semata soal pekerjaan dan pengangguran, bukan pula
soal penghidupan atau kematian.
Soalnya salah penghitungan.
Pelecehan.

Sesuap angin adalah gugatan.

(000)

Sampai kartu truf kekuasaan mendapat tandingan dan berpindah tangan.
As truf utama dan taruhan terlanjur
di tangan para tamu dan undangan.
Apa hendak dikata,
secawan anggur tumpah diperebutkan.
Berhenti sejenak, tertegun dan sarat keraguan.
Cawan yang satu ini jangan sampai dipecahkan.
Setetes anggur yang tersisa lekat pun diratakan pada
seluruh permukaan cawan.
Orang-orang yang bertikai pun telah berebut
gantian menjilati cawan.
Atau,
cawan ini digadaikan saja
untuk mendapatkan As truf utama dari para tamu dan undangan?

Ada pilihan lain.
Bagaimana kalau
permainan kartu di atas meja judi yang tanpa taruhan ini di tinggalkan?
Tidak!
Truf yang sudah dipegang harus dimainkan.
Tetapi,
As truf utama ada di tangan orang,
pemain kiriman.
Bukan itu saja,
taruhan sudah terlanjur digadaikan.
Ya, justru itu.
Pegadaian harus diperhitungkan,
sebab menghendaki permainan kartu ini diteruskan.
Mengapa?
Mereka terlalu kuat dengan As truf di tangan dan mengendalikan.
Setiap kali siap mengunci permainan, sekalipun hanya
di tingkat tawaran dan tekanan.

Pemegang truf baru adalah
bagian-bagian besar dari golongan sempalan.
Bukan kaum sepersekian sen yang ditanggalkan.
Mereka cukup berperhatian.
Masalahnya,
pemegang truf baru ini belum sepenuhnya mengendalikan.
Banyak hal jadi pertimbangan.
Sedemikian banyak, kompleks dan ruwet.
Kutak-katik sana sini mencoba formasi,
bertikai kata dan adu argumentasi.
Mulur-mungkret.
Tampak selalu gelisah dan kegerahan
dalam balut selimut kumpulan perkara dan
segala urusan mendesak paksa minta didahulukan.

Permainan kartu memang harus diteruskan.
Jika tidak,
cawan satu itu akan dipecahkan menjadi puing,
berantakan dan berpindah kepemilikan.
Apa artinya truf yang berpindah tangan jika lalu berhenti di tengah jalan?
Sekalipun As truf utama dan semua taruhan telah tergadaikan.

(000)

Sesuap angin yang dimakan oleh jutaan sepersekian sen
tidak mampu padat maupun cair untuk diberakkan.
Ia telah menjadi kekesalan dan kejengkelan.
Soalnya sangat jelas,
permainan tidak berjalan lancar.
Tersendat dan ngap-ngapan.
Pemegang kartu truf atas satu sesi kemenangan
terlalu sibuk berdebat dan saling tarik kepentingan.
Sampai
kakus jutaan sepersekian sen hampir pampat oleh tumpahan aspirasi,
kepentingan, cita-cita, harapan dan kesabaran.
Apa mau dikata,
WC jamban tidak lagi berisi tahi,
sebab sesuap angin yang menjadi nasi?

Terlalu lama sepersekian sen tidak diperhitungkan,
kekenyangan angin dan kesabaran sampai tumpah dan muntah-muntah.
Sepersekian sen dalam bilangan ribuan dan jutaan
adalah besaran kekuatan.
Ini soal harga diri.
Ini soal kehormatan.
Sebab
berat himpitan jangan sampai membikin sekarat dan mudarat.
Jangan biarkan kakus-jamban itu luber dan membuat luapan.
Menjijikkan?
Memalukan?
Tidak ada yang lebih berat dari diabaikan.
Comberan?
Memuakkan?
Tidak ada yang lebih menghinakan daripada diperlakukan sebagai
ada tidak menggenapkan, tiada tidak mengurangkan.

Sesuap angin dalam jutaan telah menjadi badai kekuatan.
Tuntutannya berharga mati
: “Demi keterbukaan dan kejujuran,
hancurkan meja judi!
Remukkan berkeping dan pindahkan permainan ke tanah lapang
atas persaksian jutaan pasang mata dan pandangan.
Cermati,
jangan ada selintutan.”

Sepersekian sen turun bermain
dan memasang tawaran.
Demi demokrasi dan keadilan
: “Delapanbelas, No Trump!”

Bermain atas dengan resiko kerugian.
Semua sudah terlanjur mulai dengan kerugian dan pengorbanan.
Demi perbaikan,
begitu sudah sepersekian sen mengambil tindakan.
Pilihannya
:“Watercloset atau revolusi kebudayaan.”
Sepersekian sen adalah duaratus juta lebih manusia Indonesia.
Ini kekuatan menuju perubahan dan perbaikan.
Jangan abaikan



(Banyakan-Kediri, April 2000)

No comments: