Friday, May 25, 2007

Pada Suatu Siang Yang Terik dan Panjang, Kau Berkaca Pada Setitik Embun Yang Melayang

Runcing bunga rumput dalam genggam angin menikam bengal pikiranku mengusikmu berkaca pada setitik embun yang melayang dalam terik siang. Kau berdandan untuk sebuah pesta yang belum ditentukan. Karena kanak-kanak mestinya bernyanyi, malah berlari… menjelang merah gincu bibir meja kerjamu. Mencari kata-kata untuk diterpakan pada pucuk-pucuk butiran debu, pasir, kerikil dan batu-batu … sehingga daun kering yang tercerai dari rantingnya pun tahu, dimana harus menimpa.
Kau mendapati teman-temanmu dalam pakaian berdasi kupu-kupu, berkerumun satu per satu lalu berebut mengais-kais dan menjilat satu demi satu: pucuk-pucuk butiran debu, pasir, kerikil dan batu-batu. Maka, ketika kau menyapanya, serentak mereka berseru tentang tanah lapang yang diperjanjikan. Sedang kanak-kanak mulai belajar menari diantara serpihan-serpihan ujung lidah dan licin air liur di seluas bentang halaman… di sepanjang jalan, dari rumahmu sampai ujung-ujung perbukitan.
Runcing bunga rumput tertanam semakin dalam. Ia mulai berakar. Aku belajar merawatnya pada kanak-kanak yang kini mulai menyanyikan kata-kata sambil bercanda dengan angin dan kegerahan. Mereka pun mengajakku melihatmu yang terus berkaca pada setitik embun yang melayang dalam terik siang. Kau mulai bergaun. Tampak pantang dijenjang.
Kau merasa cukup waktu untuk segera berangkat. Teman-temanmu terburu untuk semakin giat berebut mengais-kais dan menjilat satu demi satu: pucuk-pucuk butiran debu, pasir, kerikil dan batu-batu. Sehingga tuntas tersayat-sayat lidahnya yang kering tanpa seoles basah liur sendiri. Pesta belum juga ditentukan. Karena kanak-kanak mestinya bernyanyi, malah memungut serpihan-serpihan lidah dan air liur di seluas bentang halaman, jalan-jalan dan perbukitan… memupukkannya pada subur rumput yang telah dalam berakar dan merebak.
Lembar demi lembar daun rerumputan lekat kuat dalam renggutan kibasan tangan kanak-kanak. Satu… dua… tiga… sepuluh… seratus… sampai… beribu-ribu kanak-kanak menggenggam kuat lembar demi lembar daun-daun rerumputan menjelma bilah-bilah pedang yang merentang siap menikam langit-langit kegelisahan.
Kanak-kanak telah siap menyanyi dan menari dalam pesta yang belum ditentukan. Menanti berduduk telanjang bergenggam pedang daun rerumputan, tatapannya menyapamu dan bertanya: “Telah cukupkah kau berkaca pada setitik embun yang melayang dalam terik siang?” Sedang teman-temanmu merasakan, pesta yang belum ditentukan telah selesai diselenggarakan.

Yogya, 11.11.1999

No comments: