Friday, May 25, 2007

Dengan Tarian Layang-Layang, Kanak-Kanak Menyapamu

Selembar daun kering yang dipetik angin awal musim kemarau tahun lalu telah mulai tunas dan berakar pada setiap ujung uratnya. Kanak-kanak yang bermain layang-layang beramai-ramai memungut dan mananamnya pada ujung pintu air sumur ladang yang selalu basah dan lembab. Setiap waktu mereka menjaganya dalam kegembiraan, was-was dan harapan. Bergiliran sepanjang pagi, siang, sore dan malam hari. Tidak sehama-penyakit pun berani menyatroninya.
Kanak-kanak yang dulu pernah dijanjikan pada mereka untuk menari dan bernyanyi pada suatu pesta sudah tidak lagi mau menunggu, apakah pesta itu jadi akan diselenggarakan atau ditiadakan. Sebab menunggu hanya akan memupuk kegundahan dan kekecewaan. Mereka biarkan janji itu menua berkarat, kemudian dituntaskannya dalam rautan tajam mata pedang rerumputan dan dijadikan kerangka layang-layang.
Sepanjang hari dari pagi sampai malam kanak-kanak tidak henti memainkan layang-layang secara bergantian sambil terus menjaga daun kering yang ditanam dan kini mulai tunas dan berakar.
Layang-layang yang diterbangkan terus menari, bukan sekedar oleh angin dan ulur-tarik benang, namun juga oleh kegembiraan kanak-kanak untuk selalu menyerukan kabar bahwa daun kering yang mereka tanam telah tunas dan berakar. Dalam gelisahmu, apakah engkau mendengar kabar itu? Atau, engkau terlalu sibuk mengobati centang-perentang lidah teman-temanmu yang cabik, tersayat oleh pucuk-pucuk butiran debu, pasir, kerikil dan batu-batu? Atau, engkau kini malah menjadi beku, sebab lelah berkaca pada setitik embun yang melayang dalam terik siang?
Padang panjang memang bukan sekedar tanah lapang, ia adalah belantara fatamorgana dengan segenap tipu daya. Tataplah gerak tari layang-layang yang dimainkan kanak-kanak itu, sehingga engkau tangkap pesannya. Lepaskan ilusi sebelum jauh menghalusinasi. Pesta yang engkau janjikan memang belum terselenggara dan tidak harus ada.
Maka, dengarkan kanak-kanak bicara tentang pesta yang tengah mereka rencana. Saat nanti ketika pokok tunas daun kering telah berkembang sedepa, mereka mengundang untuk berkeliling dalam pesta. Tanpa janji. Tanpa ilusi. Tanpa fatamorgana. Mereka akan menyanyi, menari dan terus memainkan tali layang-layang sambil menjaga pokok tunas daun kering sehingga menguat akar, mengembang batang, ranting dan daunnya.
Tetap kenakanlah gaunmu dan jangan tanggalkan. Sembuhkanlah lidah teman-temanmu, ajaklah mereka berjalan. Karena, dari kemarin sampai saat ini kanak-kanak selalu bertitip tanya, apakah bibir meja kerjamu itu masih bermerah gincu?


Kediri, 01.06.2000

No comments: