Thursday, May 10, 2007

Suatu Malam Ketika Bulan Sakikir

Di teras rumahmu kita duduk dan berbincang-bincang
Malam itu penuh bintang
Rembulan sabit tanggal tua, kau menyebutnya bulan sakikir
Aku tertawa, kau tertawa
Dua ekor cicak bersuara bersahutan
Kau ketukkan ujung jarimu ke permukaan tangan-tangan kursi
Kau bilang, ini tradisi Kaili
Bercerita disahut bunyi cicak adalah kesaksian Malaikat
Cerita itu benar, katamu
Aku tersenyum, kau pun tersenyum
Telepon berdering,
kau menangkapnya dan menyulapnya menjadi secangkir kopi untukku

Secangkir kopi kau suguhkan padaku satu jam lalu
Separuh lagi ia tinggal
Separuh itu mengantarkanku menuju alam antah-berantah
Bulan sakikir mulai meninggalkan punggung bukit di seberang Teluk Kaili
Segumpal awan putih maya bergerak laju dilaju angin,
menjelma seorang Bidadari
Bergaun putih, berselempang kuning
Rambut tergerai lembut bermahkota bunga kencana permata hijau,
tinggi semampai
Busur beranak panah di tangannya diulurkan
Aku menerimanya

Bulan sakikir bertengger di pucuk pohon akasia
di pinggir jalan depan rumahmu
Aku membidiknya
Secangkir kopi tinggal seperempat lagi, menegakkan kegelisahanku
Kau pun berkisah tentang rumah tinggi yang
berhiaskan punggung-punggung bukit jajar setengah lingkar,
hamparan air laut dan lambaian pohon kelapa,
bermandikan cahaya matahari, bintang dan rembulan,
bertiupkan angin dalam irama lalove
Sekapur sirih lahap dibibirmu
Aku menelannya.
Bidikanku tepat
Bulan sakikir melayang jatuh di pangkuanmu,
menjelma sekuntum mawar merah dan setangkai daun kelor

Sekuntum mawar merah itu, kemarin lalu aku melihatnya.
Ia dikabarkan di Tanah Kabonga.
Ketika lelaki-lelaki keliaran menjala sunyi malam,
mendapati fajar tergolek di pinggiran jalan
Mawar itu ditangkap merahnya,
dihirup harumnya,
ditelan kegairahannya
dari kembang-biak taman langit-langit sepi
Laki-laki gelisah mencari hinggap
Bertengger di ranting tegak pohon kelor,
berteriak lantang
: “Bumiku dimana…!”

Berkendara setangkai daun kelor, bernyanyikan keheningan
Langit-langit malam berpelangikan bias rembulan menarikan bintang-bintang Mendarat di ujung fajar, aku dapati rupa bumiku
Aku usap lembut dengan muka dahiku

Cicak-cicak bergerak merapat, baku desak
Berdero, bersahut melantun pantun
Dihantar seteguk ujung di pangkal secangkir kopi,
aku berdiri bertelekan sebatang rokok lintingan
Melompat-lompat aku di sela malam dalam tarian tanah bergoyang

Telapak kakiku tinggal di teras depan rumahmu

Palu. Okt. 1998

No comments: