Saturday, March 27, 2010

Berpikir itu apa?

Si kecil yang belum lagi lima tahun bertanya, berpikir itu apa to? Bagaimana menjelaskannya pada anak sekecil itu, si Balita. Pusing juga mencari cara menjelaskannya. Cara yang pas dan tepat. Cara yang dapat diterima akal sehat dan jernih. Akal cerdas kanak-kanak di bawah umur lima tahun. 

Tidak ada referensi literer atau mesti buka-buka sana-sini. Anak bertanya. Jawaban tidak dapat ditunda. 

Jurus tradional ketangkasan berpikir para leluhur: othak-athik mathuk! Ya, othak-athik mathuk atau kutak-katik sampai cocok, pas dan masuk akal. 

"Nak, cobalah kamu katakan pada bapak-ibu. Katakan apa saja yang mau kamu katakan." 

"Aku mau minum teh," kata si anak. Bapaknya pun berdiri untuk membuatkan teh. 
"Tidak. Bapak mau kemana?" 
"Bikin teh untukmu." 
"Tidak. Aku cuma mau ngomong itu saja." 
Si bapak tetap berlalu membuat teh. Segelas untuk anaknya. Ibunya tersenyum. 

"Ini tehnya," kata si bapak sambil menyuguhkan teh pada si anak. 

"Nak, sekarang kamu ngomong lagi ke bapak-ibumu. Ngomongnya tidak boleh bersuara." 
"Tidak boleh bersuara?" tanya si anak dengan wajah bingung. 
"Ya. Tidak boleh bersuara, tapi telingamu tetap mendengarnya." 
"Bagaimana?" 
"Bisa. Kau pejamkan mata." Si Bapak mulai menuntun. "Katakan sesuatu. Kalau sudah bapak akan bertanya dan kamu cukup menngangguk saja." 

"Sekarang pejamkan mata. Katakan sesuatu." 
Beberapa saat. "Sudah?" tanya si bapak. Si anak mengangguk. 
"Baik. Buka matamu." 
Si anak membuka mata dan menghela nafas. Serta-merta...... "Bapak... Ibu... Tadi dengar akan bilang sesuatu nggak." 
Si Ibu tersenyum dan menggeleng. "Tidak dengar, nak. Kamu bilang apa?" 
"Aku bilang, ibu cantik sekali." kata si anak. "Juga aku bilang, kenapa ibui mau jadi isteri Bapak? Begitu..." 
"Aku dengar lho yang aku bilang itu... Mosok ibu gak dengar? Bapak dengar nggak?" 

"Tidak, nak. Bapak juga tidak dengar" kata si Bapak. "Sekarang bapak ingin dengar apa yang kamu katakan tadi." 

"Iya pak. Aku tadi bilang ibu cantik sekali. Kenapa ibu mau jadi isteri bapak?" kata si anak. 
"Oh... begitu." 

"Anak tadi bilang sesuatu. Berbicara di dalam kepala. Yang berbicara itu otak. Telingamu mendengar, tapi bapak dan ibu tidak mendengar... Itulah nak yang namanya berpikir." Kata si bapak. 

"Terus kamu sudah mengucapkan pada bapak dan ibu yang kamu katakan di dalam kepala. Bapak dan ibu mendengar. Bapak dan ibu pun tahu yang kamu pikirkan. Kamu sudah mengatakan yang kamu pikirkan dengan bicara menggunakan ucapan dari suara mulutmu." 

Si anak mengangguk-angguk. Entah dia paham betul atau tidak. Sang bapak dan ibu sudah lega. 

"Bapak... ibu... jadi aku sudah tahu sekarang. Aku sudah berpikir." 



Ini saya tulis sebagai kenangan mengasuh anak-anak kami di usia Balita. 
Jakarta, 27 Maret 2010.
(Watugunung)

1 comment:

Ayik said...

Hmmm,...satu pelajaran yang berat ya...he he he...tapi sangat perlu dan penting