Di atas tanah ini
Darah kami tumpah lagi
Oleh ujung senapan yang mengasap
Kami tidak akan pernah mundur
Dari kedaulatan atas tanah dan bumi merdeka ini
Sebab,
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan
cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Sebab,
“…kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa…
Sebab,
Pemerintah Negara Indonesia dibentuk untuk “…melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”
Sebab,
Bumi ini adalah Bunda Kami
Bukan pelacur yang seenaknya engkau gagahi
Jakarta, 30 Mei 2007
Wednesday, May 30, 2007
Obituari: Pramoedya Ananta Toer
”Setelah Kabar Kematian Pram”
Selamat Jalan menuju Rumah Keabadian
Usai dan sempurnalah tugasmu menjejaki kehidupan
dengan segenap tanda kecerdasan
anak bangsa
(Minggu, 30 April 2006)
”Di rumah duka Pram, duka-cita pelayat dan karangan bunga ”
Orang datang dengan segala hati
Jiwamu dalam keabadian
Semoga mereka yang telah hadir maupun yang kemudian
Dalam kesadaran dan kecerdasan
Untuk membaca dan memberi tanda-tanda di
Setiap jejak langkah jamannya.
(Minggu, 30 April 2006)
”Dengan sedikit gerimis di halaman rumah duka, menjelang penghormatan terakhir”
Langit memayung mendung
Sedikit gerimis
Alam Raya tertunduk sendu
Mendoa
Menyambut kepulangan Sang Anak
dalam peluk abadi Bunda Pertiwi
Tangis tidak diperlukan lagi
Jejaknya sudah menandai
Ia telah sempurna disebut sebagai
Diri-nya dan atas nama-Nya
(Minggu, 30 April 2006)
”Gerimis usai, matahari bersinar lagi: Sholat Jenasah untuk Pram”
Allahu Akbar...!!!
Mendung menyibak
Matahari tersenyum manis
Ia kembali ke rumah keabadian dalam Kasih Allah
Tuhan Seru Sekalian Alam
Sumber dari Segala Muasal.
Amin
(Minggu, 30 April 2006)
”Sehari setelah pemakaman, renungan dan penandaan di TPU Karet Bivak”
Innalillahi wa innailaihi roji’un... Allahu Akbar...!!!
Mendung memayung, tebal
Sayup-sayup suara adzan dan qomat di liang lahat
Orang-orang tertegun khidmat
Sekali suara guntur mengalun hentak
Merdu dan dalam
Angin meniup mengusir gerah di Siang Jakarta
Daun-daun tua, rontog dari rantingnya
Menyapih akar, pohon dan bunga-bunga
Serentak lembut menebar tebar
Timpa tanah lembut menggeletak
Usai
Daun-daun muda dan segar
Lekat kuat, tegar memayungi
Selamat Jalan Kawan
Di Rumah Kaca, tempat tinggal kita
Jejak Langkah dari Anak Semua Bangsa
Menandai sejarah hidupnya Bumi Manusia
Engkau telah mencatatnya.
(Jakarta, 1 Mei 2006)
Selamat Siang Para Politisi
Siang pucat berselimut mendung
Debu dan asap.
Hijau punggung rumah bulus
Bopeng
Meradang luka
Di kursi
Para sakit gigi berdiskusi
Menggigil
Bertaruh separuh nyali
Jakarta, 19 April 2006
Debu dan asap.
Hijau punggung rumah bulus
Bopeng
Meradang luka
Di kursi
Para sakit gigi berdiskusi
Menggigil
Bertaruh separuh nyali
Jakarta, 19 April 2006
“Pertinggal”
Ndam-ndam-ndam-ndam...
Gendam... ndham-ndam-ndam!
Pu-pu-pu-pu...
Tipu... pu-pu-pu!
Gendam tipu jahaman si penyaji kata-kata
Kata-kata ditebar, ditancap
Ditanam-tanamkan di sembarang tempat
Di empang, dia tak tumbuh
Di sawah, dia tak tumbuh
Di ladang, dia tak tumbuh
Di jalan-jalan, dia tak tumbuh
Di gunung, dia tak tumbuh
Di hutan, dia tak tumbuh
Di laut, dia tak tumbuh
Di sungai, dia tak tumbuh
Di pabrik, dia tak tumbuh
Di kota, dia tak tumbuh
Di desa, dia tak tumbuh
Di halaman, dia tak tumbuh
Di kebun, dia tak tumbuh
Di taman, dia tak tumbuh
Di rumah, dia tak tumbuh
Di sekolah, dia tak tumbuh
Di tempat ibadah, dia tak tumbuh
Di mata, dia tak tumbuh
Di telinga, dia tak tumbuh
Di hidung, dia tak tumbuh
Di mulut, dia tak tumbuh
Di kepala, dia tak tumbuh
Di dada, dia tak tumbuh
Di perut, dia tak tumbuh
Di kaki, dia tak tumbuh
Di tangan, dia tak tumbuh
Di mana, dia tak tumbuh
Di sana, dia tak tumbuh
Di situ, dia tak tumbuh
Di sini, dia juga tak tumbuh
Kata-kata hanya ditumpuk tanpa sisa
Dipesankan:
“Nak, simpankan walau kau bilang ini sampah
Catatkan, nanti ini juga menjadi sejarah.”
Jakarta, April 2006
Gendam... ndham-ndam-ndam!
Pu-pu-pu-pu...
Tipu... pu-pu-pu!
Gendam tipu jahaman si penyaji kata-kata
Kata-kata ditebar, ditancap
Ditanam-tanamkan di sembarang tempat
Di empang, dia tak tumbuh
Di sawah, dia tak tumbuh
Di ladang, dia tak tumbuh
Di jalan-jalan, dia tak tumbuh
Di gunung, dia tak tumbuh
Di hutan, dia tak tumbuh
Di laut, dia tak tumbuh
Di sungai, dia tak tumbuh
Di pabrik, dia tak tumbuh
Di kota, dia tak tumbuh
Di desa, dia tak tumbuh
Di halaman, dia tak tumbuh
Di kebun, dia tak tumbuh
Di taman, dia tak tumbuh
Di rumah, dia tak tumbuh
Di sekolah, dia tak tumbuh
Di tempat ibadah, dia tak tumbuh
Di mata, dia tak tumbuh
Di telinga, dia tak tumbuh
Di hidung, dia tak tumbuh
Di mulut, dia tak tumbuh
Di kepala, dia tak tumbuh
Di dada, dia tak tumbuh
Di perut, dia tak tumbuh
Di kaki, dia tak tumbuh
Di tangan, dia tak tumbuh
Di mana, dia tak tumbuh
Di sana, dia tak tumbuh
Di situ, dia tak tumbuh
Di sini, dia juga tak tumbuh
Kata-kata hanya ditumpuk tanpa sisa
Dipesankan:
“Nak, simpankan walau kau bilang ini sampah
Catatkan, nanti ini juga menjadi sejarah.”
Jakarta, April 2006
Sisa Satu Kata di Siang Nyeri: Sudahlah!
Air mancur
Panas matahari
Jalan beraspal
Tiang bendera berjajar
Mobil panser
Kanon
Gas air mata
Dan
Satuan jaga setara kompi
Nyanyian, sudah usai
Di depan gerbang
Demonstran telah pergi
Plakat-plakat sisa ditinggalkan menancap
Satu kata: “DOWN!”
Berjajar gambar orang-orang berpasangan
Hanya dua wajah, separuh badan
Diam,
Tersenyum beku
Tidak bergeming.
Rumput-rumput di sepanjang tepi
Diam menjalar
Tidak peduli.
Apa kabar hari ini?
Sepi,
Tanpa kibar
Di tiang aku sendiri
Lunglai.
Halimun membayang memagar-membenteng
Berkelamun-kerimun
Maya, menari-nari
Di depan beranda rumah ini
Layang-layang bertingkah tanpa kendali
Putus tali, putus nyali.
Aduhai... Ai-ai-ai....
Jakarta, April 2006
Panas matahari
Jalan beraspal
Tiang bendera berjajar
Mobil panser
Kanon
Gas air mata
Dan
Satuan jaga setara kompi
Nyanyian, sudah usai
Di depan gerbang
Demonstran telah pergi
Plakat-plakat sisa ditinggalkan menancap
Satu kata: “DOWN!”
Berjajar gambar orang-orang berpasangan
Hanya dua wajah, separuh badan
Diam,
Tersenyum beku
Tidak bergeming.
Rumput-rumput di sepanjang tepi
Diam menjalar
Tidak peduli.
Apa kabar hari ini?
Sepi,
Tanpa kibar
Di tiang aku sendiri
Lunglai.
Halimun membayang memagar-membenteng
Berkelamun-kerimun
Maya, menari-nari
Di depan beranda rumah ini
Layang-layang bertingkah tanpa kendali
Putus tali, putus nyali.
Aduhai... Ai-ai-ai....
Jakarta, April 2006
Istana Bogor di 28 Maret 2006
Diantara pohon-pohon
Diantara menjangan
Diantara rerumputan
Berpagar tombak
Berkeliling orang-orang
Angkuhmu,
Megah dan sombong
Bogor, 28 Maret 2006
Diantara menjangan
Diantara rerumputan
Berpagar tombak
Berkeliling orang-orang
Angkuhmu,
Megah dan sombong
Bogor, 28 Maret 2006
Di lintas Jakarta – Bogor
Gadis,
Selintas cantikmu kusapa dengan beku mata
Nyanyian cinta pengamen muda, menggiyur dengkur bahana jiwa
Terik di siang ini, menggigil
Langit memang bergulung mendung
Mengatup pucuk-pucuk gunung
Gadis,
Pohon-pohon hijau kurus sepanjang tepi jalan kita ini
Membayang akarnya tak lagi mencakar
Gadis,
Jaga hatimu
Sebab,
Ibu Bumi sudah diabaikan
Salam.
Jkt-Bgr, 28/29 Maret 2006
Selintas cantikmu kusapa dengan beku mata
Nyanyian cinta pengamen muda, menggiyur dengkur bahana jiwa
Terik di siang ini, menggigil
Langit memang bergulung mendung
Mengatup pucuk-pucuk gunung
Gadis,
Pohon-pohon hijau kurus sepanjang tepi jalan kita ini
Membayang akarnya tak lagi mencakar
Gadis,
Jaga hatimu
Sebab,
Ibu Bumi sudah diabaikan
Salam.
Jkt-Bgr, 28/29 Maret 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)