Sunday, February 7, 2010

Puisi untuk Setya Rusdianto (Pengantin Jogya di 13 Pebruari 2010)

SELAMAT.
Terimakasih dengan kabar dan undangannya.

Perkawinan adalah anugerah. Segala berkah dan rahmat Allah Swt selalu meruangi, menafasi dan menyegari. Mekarkan bunga-bunga. Rekahkan putik dengan wewangi serbuk sari. Telangkupkan dalam karomah menghangati tumbuhnya biji dan buah-buah kehidupan. Marakkan bunga setaman dan merimbuni hutan sealam. Semestakan adam meruangi hawa, meniti birahi Illahiah dalam alun-ayun dzikir hidup.

Yaa Allah...
 Yaa Huu...
Yaa Cinta...
Yaa Kasih...
Yaa Sayang...
Yaa Hidup...
Yaa Berkah...
Yaa Rahman...
Yaa Rakhim...

Menikah, kawin-mawin dan bahagialah.
Penuhi dunia dengan senyum, tawa, celoteh, canda dan nyanyian kanak-kanak.

Selamat dan Salam.


Watugunung
Cililin-Kebra-Jaksel, 7 Pebruari 2010

Tuesday, February 2, 2010

Hm…….

Mengalir dan merdeka
Mengikuti arus air mengalir dengan kedaulatan penuh
Tawar-menawar sudah dilakukan
Seibarat perjual-belian sapi, kerbau, kamping dan ayam kampung
Di pasar tradisional
Pembeli adalah raja, menawar boleh berapa saja
Sebab para petani selalu disudutkan oleh waktu dan nafas hidup
Ladang dan sawah yang harus tetap dijaga segarnya
Tungku dan periuk terjaga hangat dan aromanya

Mengalir dan merdeka
Kata putus telah ditetapkan oleh sindiran dan penyudutan
Seibarat perjual-belian di pasar hewan tradisional perdesaan
Pemegang tali dan pendengar transaksi, berhak mendapat sekedar kopi
Tidak terhindarkan menyudut di pojok tepian
Barangkali ada arus lain lebih berpengharapan,
Arus kuat dan tenang akan nyaman diarungi
Persimpangan arus aliran itu sudah diperdengarkan
Menunggu?
Tidak perlu!

Mengalir dan merdeka
Mengikuti arus aliran air dengan kedaulatan penuh
Sedaulat meniti tepian pusaran dan menetapkan
Arus pilihan yang lebih kuat, tenang dan nyaman

Jika penawar itu dapat menentukan apa saja guna memperoleh
Penjaja pun bebas lewat pergi
Carut-marut jual beli tikai
Pada hari ini sudah dijejaki.

Selamat Pagi
Selamat Datang
Siapa-siapa melawan siapa-siapa
Siapa-siapa berjabat siapa-siapa
Siapa-siapa kepada siapa-siapa


Watugunung,
Cililin-Kebra-Jaksel, 1 Pebruari 2010


Saturday, January 30, 2010

Antara Cicak, Lalat, dan Gerimis Senja Jakarta

Seekor cicak mengendap rayap
Tangkas menyergap
Seekor lalat tenang hinggap di lantai balik pintu kamar
Menikmati aroma busuk bekas-bekas telapak kaki
Sisa-sisa jejak jalanan kota Jakarta
Hap!
Kena!
Lalat tertangkap lahap
Cicak diam memuas diri
Melega nikmat
Berbalik ia merayap lari
Merambat tembok pergi sembunyi

Cicak menyergap lalat
Menangkap lahap di sore Jakarta yang ditimpa hujan gerimis
Gerah tidak juga terusir

Cicak menyergap lalat
Menangkap lahap cukup satu saja
Tanpa rakus menyambung hidup

Tanpa lebih
Tidak berlebih
Sesuai janji
Pada hidup
Pada alam
Pada daur hayati

Seekor cicak yang lain
Mengendap merayap
Menghampiri diamku
Kutoleh ia dan terbirit lari
Sembunyi di sela keropos dinding tembok dan papan kamar
Ah,
Kasihan si cicak itu
Terlalu besar badan diamku untuk di lahap dalam sergapnya
Ah,
Dia tertipu haru
Ternyata bukan lalat diendapinya, namun
Aku yang tengah menikmati sore Jakarta
Aku yang asyik mengecapi gerimis Jakarta


Watugunung,
(Cililin-Kebra-Jaksel, 30 Januari 2010)


Thursday, January 28, 2010

Kisah kecil di masa kecil (2)

Guru Agama sekolah dasar dari sebuah desa kecil di lereng Wilis, mengajar murid-murid kecilnya tentang salah satu kepantasan orang yang pertama-tama berwenang menjadi Imam dalam jamaah.

Disampaikan oleh sang Guru, bahwa orang yang datang paling awal ia yang berada di paling depan dan berturut-turut yang datang kemudian berjajar dibelakangnya. Mengatur shaff dengan rapat dan rapih. Jamaah diselenggarakan.

Menjadi pengalaman menggetarkan diantara murid-murid kecil itu, ketika ada diantaranya yang tidak dapat menolak untuk "terlanjur menjadi imam." Bagaimana kisahnya?

Si anak maunya menyelesaikan bersembahyang lebih dulu dari yang lain...sendiri. Tidak menunggu berjamaah. Maunya agar punya waktu lebih untuk bersantai. Menyelinaplah ia ke surau kecil dekat sekolahnya. Belum selang ia dirikan sholah, bahunya ditepuk oleh satu-dua-tiga... tangan berurutan. Diantara yang menepuk itu, adalah tangan yang terasa lebih besar dan mantap.

Yang sudah didirikan, tidak boleh dibatalkan. Pikiran si anak melayang... konsentrasi goyah... keringat dingin mulai menderas... Guru ada dibelakangku, bermakmum.... Uih, aku menjadi imam.... bagaimana ini nanti? Suara cekikik lembut, tawa ledek ditahan dari diantara para makmum di belakangnya juga terdengar. Pasti itu si Polan yang bandel. Ah...

Terngiang di telinga batin dan pikirannya saat guru berkata, yang sudah didirikan jangan dibatalkan. Ya... akhirnya lega bertindih gundah-gulana sewaktu salam terucapkan... Dia lari menubruk sang Guru, bersalam dan mencium tangan.

"Ampun, Guru......"

Sang Guru berucap: "Selamat nak, kamu sudah berhasil dirikan jamaahmu."

"Tapi, Guru...."

"Tidak apa dan jangan gundah. Jamaahmu memang belum rapih. Kawanmu masih ada yang cekikikan, tapi dirimu sudah memulai. Ya... kamu sudah memulainya."

"Selamat, nak."

"Terimakasih, Guru."

Watugunung,

(Cililin-Kebra-Jaksel, 28 Januari 2010)


Kisah kecil di masa kecil (1)

Guru "ngaji" yang juga seorang kiai atau tepatnya imam surau kecil (kami menyebutnya "langgar") di dusun kecil lereng Wilis, mengajar pada santri-santri kecilnya... anak-anak sekitar 5 sampai 9 tahunan, para lelaki dusun yang belum akil baligh... tentang tata cara yang baik berjama'ah. Ia selalu mengingatkan para santri yang pasti masih dalam ruang umur "harus banyak tingkat dan mbeling" pada setiap menjelang shalat maghrib dan isya'.

"Atur shaff yang baik dan rapat. Jangan ada ruang kosong diantara kita. Kalau shaf tidak rapih dan ada ruang kosong... Nanti ditempati setan, iblis yang menggoda. Jamaah kita bisa kacau... ruwet... ribut..."

Santri-santri kecil dengan segala polah-tingkahnya merapatkan diri, mengatur diri dan menata shaff dengan baik dan rapat. Semua berpikir sama, jangan samai ada setan di sebelah kanan, kiri, muka dan belakang saya... Kalau ada setan..... hiiiii..... takut, nanti dapat digondol ke neraka.

Santri-santri kecil. Belajar berjamaah dan menjadi ma'mum yang baik. Ma'mum yang mengatur dan mengimami dirinya untuk berimam pada kebersamaan.

Jamaah para santri kecil itu berlanjut menjadi jamaah mengaji, lalu jamaah pulang, jamaah bermain, jamaah hidup sehari-hari.

Rapatkan shaff... rapatkan barisan... yang rapih. Shaff atau barisan yang rapat dan rapih... adalah kebersamaan yang kuat.

Watugunung,

(Cililin-Kebra-Jaksel, 28 Januari 2010)

Wednesday, November 25, 2009

Mencari Format Pendidikan Rakyat Merdeka: Bahan Diskusi 4

Agenda Aksi: Membangun Format Pendidikan Rakyat Merdeka

Mengacu pada pokok-pokok kesepakatan dalam pertemuan Semarang (12 Desember 2004), menuju rencana penyelenggaraan Jambore Kebudayaan yang bertemakan “Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat” mendesak melakukan pemahaman kembali substansi kedaulatan rakyat dan penyebarluasan jiwa merdeka. Sebagai bagian dari jalan menuju jambore dipandang mendesak untuk dilakukan upaya “mencari format pendidikan rakyat merdeka.” Pencarian format demikian tidak dilakukan secara instan, namun akan ditempuh proses dialogis melalui serangkaian proses sharing, diskusi dan lokakarya. Harapannya, pada saat jambore kebudayaan diselenggarakan, Perguruan Rakyat Merdeka telah memiliki tawaran konseptual yang tentu saja akan dan harus dikritisi bersama agar memperoleh ketajaman konseptual dan operasional.

Pencarian format pendidikan ini bukanlah proses yang sentralistik yang akan berimplikasi pada penyeragaman. PRM menabukan cara-cara demikian. Ini merupakan proses pengkayaan yang demokratik, otonom, merdeka dan berkedaulatan. Ini proses untuk membangun puspa-ragam, bunga-rampai atau kembang-setaman kemerdekaan dan keberdaulatan yang demokratik dan berperikemanusiaan. Keberagaman metode, pendekatan, strategi dan teknis operasional adalah pengkayaan bagi perluasan dataran perjuangan gerakan rakyat merdeka sebagai gerakan keberdaulatan dalam kebidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Lingkaran-lingkaran diskusi dan kajian dapat dikembangkan oleh setiap individu sebagai simpul gerakan dengan melibatkan mereka yang secara eksplisit telah bergabung dalam embrio gerakan Perguruan Rakyat Merdeka maupun mereka yang baru mendengar tapi belum bergabung maupun siapa saja mereka yang belum tahu sama sekali tentang PRM tetapi memiliki potensi dan komitmen bagi proses pemerdekaan dan penguatan keberdaulatan rakyat. Lingkaran-lingkaran kajian pada ujungnya harus ada kesediaan dan kesempatan untuk duduk bersama dan membangun momentum untuk sharing, dialog, mencapai kesepahaman dan menyusun rumusan format pendidikan rakyat merdeka.

Secara materiil agenda aksi untuk membangun format pendidikan rakyat merdeka menawarkan beberapa tema bahasan pokok, yakni:

  1. Pembahasan tentang konteks pemahaman dan pemaknaan “merdeka” dalam konteks kejiwaan, sosial dan budaya. Ini penting untuk menghindarkan salah pemahaman dan pemelintiran makna kata “merdeka” sebagai “bebas” atau malah “liar.” Pemelintiran atau reduksi makna ini acapkali berkait dengan kepentingan “pengendalian” dan “pemandulan” gerakan kemerdekaan dan keberdaulatan rakyat oleh kelompok status-quo sebagai pemegang hegemoni dan kemapanan.
  2. Kajian reflektif kesejarahan dan budaya merdeka. Ini pengelaman kesejarahan dan interaksi kultural komunitas-komunitas rakyat yang membangun otoritas kemerdekaan dan kedaulatannya, situasi represif dari dalam dan luar yang mengancam dan merendahkan harkat dan martabat kemerdekaan, serta bagaimana upaya-upaya perjuangan yang dilakukan sebagai proses panjang untuk merebut kembali kemerdekaan dan kedaulannya.
  3. Penelusuran dan kajian terhadap konsep dan praksis pendidikan merdeka atau yang secara substansi mengusung nilai-nilai kemerdekaan baik dalam struktur formal, non formal maupun informal yang berkembang pada masa pergerakan sampai reformasi.
  4. Sharing dan dialog dengan pelaku-pelaku pendidikan rakyat (yang merdeka) pada yang masih hidup dan berjalan pada era sekarang ini.
  5. Perumusan asas, dasar, prinsip, nilai, upaya pengembangan, penyebarluasan dan penguatan konsep dan praksis pendidikan r yang melibatkan seluruh komponen pelaku gerakan pendidikan rakyat merdeka.

Tuntutan Tanggung Jawab dan Sikapan Bersama

Menilik persoalan yang dihadapi rakyat berkait dengan penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak teringkari bahwa peran dan posisi rakyat termarginalkan. Hegemoni kepentingan-kepentingan pragmatik-materialistik dari pemegang kekuasaan politik negara dan kapital, mendesak budaya hidup rakyat pada tingkat ketergantungan yang massive. Berbagai media yang dapat dioptimalkan sebagai sarana dan prasarana pendidikan dalam praktek hidup sehari-hari, baik formal, non-formal dan informal dimobilisasikan sepenuh-penuhnya untuk membangun sikap budaya konsumtif dan instan. Akibatnya, hakekat kemanusiaan rakyat disungkurkan pada tingkat dasar sampai menyerahkan seluruh daya hidupnya menjadi skrup dan komponen produksi sekaligus pemakan remah-remah pasar kapitalime. Berbagai upaya perubahan hampir menghadapi situasi buntu dan stagnasi, sebab kepercayaan akan kapasitas diri yang otonom sangat kurang dimiliki. Otoritas kemanusiaan yang merdeka dan berdaulat dihancurkan. Berbagai pandangan, aspirasi, inisiatif dan kepentingan yang semestinya dapat dirumuskan dan disuarakan sendiri oleh rakyat, diambil-alih dan direduksi oleh pandangan-pandang elit yang menyatakan klaim atas nama rakyat.

Situasi terurai tersebut tentu menuntut sikapan dan tanggung jawab bersama. Perkaranya, bagaimana membangunkan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara ini dari kondisi pingsan yang berkepanjang, serta merebut kembali kemerdekaan dan keberdaulatannya dari ranah pegadaian? Pengorganisasian segenap potensi pembangkit kemerdekaan dan keberdaulatan dan melakukan praksis bersama. Banyak pekerjaan telah dilakukan oleh berbagai kawan dan komponen bangsa ini, tetapi itu masih serpihan-serpihan. Mendesak menautkannya sebagai sebuah potensi kerja gerakan kebudayaan. Gerakan pendidikan Perguruan Rakyat Merdeka.




Disampaikan untuk Perguruan Rakyat Merdeka sebagai awalan dan bahan diskusi:
“Mencari Format Pendidikan Rakyat Merdeka”

Kediri-Jogja, Des ’04 – Jan ‘05
RP/WG




Mencari Format Pendidikan Rakyat Merdeka: Bahan Diskusi 3

Strategi Hipotetik:
Kaidah Dasar Pendidikan Rakyat Merdeka

(Mentradisikan Pendidikan Rakyat Merdeka)

1. Arah Pendidikan

Arah strategis pendidikan rakyat merdeka adalah terbangunnya harkat manusia masa depan yang cerdas, bermartabat dan beradab. Ini merupakan landasan dan pilar utama bagi perikehidupan rakyat yang merdeka dan berdaulat, sehingga mampu menegakkan hakekat kemanusiaan yang adil dan beradab. Aspirasi, inisiatif dan kepentingan rakyat terungkap, menguat dan dapat digalang untuk mewujudkan tata kehidupan bersama ketika harkat kemanusiaan terpenuhi. Secara operasional pendidikan dimaksud adalah media atau katalisator untuk membangun landasan dan membuka jalan ke ruang dialogis bagi bertemunya orang-orang dan komponen masyarakat, bangsa dan negara. Ini semestinya yang harus men(di)jadi(kan) tradisi pendidikan.

Hanya dengan ruang dialogis yang terbuka luas dapat dijalin proses dialogis. Proses dialogis akan memberikan pengalaman-pengalaman dialogis. Pengalaman dialogis akan menanamkan nilai, sikap dan perilaku dialogis. Nilai, sikap dan perilaku dialogis akan melahirkan penghormatan dan penghargaan manusia sebagai subyek yang otonom dan berdaulat dalam tata pergaulan sosial kemanusiaannya, kebangsaannya maupun dalam pergaulan tata hidup bernegara. Otonomitas dan otoritas yang merdeka tidak akan pernah mentolerir nilai, sikap dan perilaku bebas yang semena-mena, perilaku yang acapkali mengabaikan nilai-nilai etik kemanusiaan dalam hubungan antar manusia (Catatan: Pengabaian nilai etik kemanusiaan dalam hubungan antar manusia akan memunculkan pemerasan manusia, seperti: sistem pengupahan dibawah kelayakan hidup, manipulasi produk dalam sistem pemasaran dan periklanan, penyebarluasan materi siaran dalam berbagai media yang mengabaikan anak, manipulasi suara dan politicing dalam demokrasi dan lainnya), maupun manusia dengan alam dan lingkungannya (Catatan: Pengabaian nilai etik kemanusiaan dalam hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya menimbulkan masalah degradasi lingkungan dan kerusakan ekosistem, seperti: pembabatan dan kerusakan hutan, eksploitasi sumberdaya energi dan mineral alam, industri polutan dan sebagainya). Sebaliknya, ia juga tidak dapat mentolerir pemaksaan aturan dan nilai yang dilakukan berdasar tafsir-tafsir sepihak dan tanpa parameter yang jelas, sehingga justru memicu pertikaian antar kelompok dan praktek semena-mena dalam proses politik, hukum dan peradilan.

2. Rakyat (yang) Ber-Negara, Negara (yang) Ber-Rakyat 

2.1. Kedudukan Rakyat

Membangun kerangka atau format pendidikan rakyat merdeka perlu pertimbangan dan landasan strategis dengan menempatkan inter-relasi antara rakyat, wilayah dan pemerintahan dalam sistem penyelenggaraan kehidupan bangsa dan negara. Acuan sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah konstitusi. Pemahamannya, negara merupakan entitas utuh yang terdiri dari rakyat, wilayah dan pemerintahan yang dasar pengaturan hubungan antar komponen tersebut dalam penyelenggaraannya diatur oleh konstitusi atau undang-undang. Rakyat adalah pemegang penuh kedaulatan negara, wilayah merupakan sumberdaya materiil yang paling dasar bagi keberadaan negara merdeka, dan pemerintahan itu perwujudan sistem pengelolaan dalam penyelenggaraan negara yang berkedaulatan.


2.2. Hak Rakyat


Kontekstual dengan eksistensi negara yang memilih format negara berkedaulatan rakyat (republik) dan menyelenggarakan kedaulatan dengan sistem demokratik, maka konteks strategi dan implementasi penyelenggaraan negara dari perspektif kerakyatan akan tampak dari parameter-parameter:

  1. Rakyat sebagai konstituen utama dalam penyelenggaraan negara apakah dapat dijamin kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya secara adil dan beradab?;
  2. Apakah rakyat dalam penyelenggaraan negara terbuka aksesnya secara adil terhadap sumberdaya materiil dan non materiil yang sangat berarti bagi kepentingan kelangsungan hidup, perkembangan dan kemajuan?
  3. Adakah jaminan penyelenggaraan negara terhadap keterbukaan ruang bagi rakyat untuk selalu mengembangkan dan menguatkan sikap dan kesadaran kritis dan kreatifnya?
  4. Bagaimana rakyat secara pribadi, kelompok maupun kemasyarakatannya memiliki keleluasaan ruang partisipasi dalam segenap proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara?
  5. Bagaimana rakyat sebagai pemilik kedaulatan dalam penyenggaraan negara dijamin hak dan kewenangannya untuk melakukan kontrol dan meminta pertanggungjawaban pemerintahan selaku pelaksana pengelolaan kehidupan negara?

3. Strategi Pendidikan Rakyat Merdeka

3.1. Pilar Tradisi Pendidikan


Landasan operasional bagi proses penyusunan format pendidikan rakyat secara substansi dituntut mampu memberikan arahan integratif peletakan dasar lima pilar keutamaan manusia yang merdeka dan berdaulat, yakni:

  1. Keterampilan. Bagaimana pendidikan mampu menguatkan kapasitas dan meningkatkan kualitas kerja produktif dan reproduktif manusia bagi pemenuhan kebutuhan akan kelangsungan hidup.
  2. Keahlian. Bagaimana pendidikan mampu mendorong kreatifitas teknologis untuk mensiasati keterbatasan fisiologis dann kualitas kinerja yang mampu menjamin keberlanjutan kerja produktif dan reproduktif.
  3. Kecerdasan pikir. Bagaimana pendidikan mampu membedah ruang bagi penguatan sikap kritis dan kemampuan analitis atas berbagai fenomena inderawi dan kognisi yang ada dan mengendap dalam realitas hidup masyarakat, sehingga secara materiil proses dan aktifitas kreatif memperoleh referensi dialektiknya dengan realitas.
  4. Kepekaan jiwa. Bagaimana pendidikan mampu membangkitkan daya afektif yang mendasari interaksi dan interrelasi antar sesama manusia dan lingkungannya sehingga manusia mampu membentuk entitas sosial yang utuh. Ini menyangkut proses institusionalisasi yang interaktif dalam pembangunan sistem nilai, norma dan tata aturan yang menjadi acuan berbagai tindakan hubungan antar manusia, adanya tanggung jawab sosial, kemanusiaan dan lingkungan dalam suatu daur hidup (ekosistem).
  5. Ketulusan hidup. Bagaimana pendidikan membangun basis kesadaran manusia secara interaktif dengan realitas kesemestaan yang dialektis, sehingga manusia mampu menyerap kesemestaan diri (micro-cosmos) seru sekalian alam (macro-cosmos) sebagai daya, energi dan spirit hidup. Spiritualisme dan religiusitas dalam tradisi apapun (keagamaan langit, keagamaan bumi maupun berbagai jenis kepercayaan) merupakan bentuk apresiasi dan ekspresi adanya kesadaran ketulusan hidup.

3.2. Metodologi Pendidikan: Tiga Muatan Dasar


Operasionalisasi proses pembelajaran dalam pendidikan rakyat merdeka yang secara substansi merupakan upaya membangun dan membangkitkan kembali kedaulatan rakyat, secara integratif diberikan 3 (tiga) muatan dasar.

Pertama, ”muatan teknis” yang berintikan aspek-aspek yang berkait dengan interaksi produktif/reproduktif dengan lingkungan materiil sebagai basis sumberdaya kelangsungan hidup dan perubahan.

Kedua, ”muatan teoritik” yang berintikan aspek-aspek bangunan kesadaran kritis dan kemampuan analitik terhadap realitas yang berkembang.

Ketiga, ”muatan pengorganisasian” yang berintikan aspek-aspek yang berkenaan partisipasi dari keseluruhan elemen, komponen dan subyek pembelajaran.

Pendidikan untuk membangun dan membangkitkan kembali kemerdekaan manusia dan kedaulatan rakyat, pada keseluruhannya, menuntut intensitas keterlibatan dan perluasan ruang dialogis yang realitas sesungguhnya sangatlah kompleks. Diperlukan upaya yang lebih sistematik untuk menyusunnya sehingga dapat diperoleh kaidah-kaidah dasar pendidikan yang operasional dan terukur. Sekalipun demikian, pokok-pokok terurai memang tidak dapat diabaikan dan ditinggalkan.



4. Strategi Pendidikan Merdeka dan Berdaulat

Pertama, proses konseptualisasi harus sejak awal tegas memposisikan rakyat sebagai subyek yang berkedaulatan dan merdeka dalam penyelenggaraan tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat. Pada posisi demikian harus melihat dan mendudukkan secara tegas entitas rakyat sebagai subyek dalam interelasinya dengan kewilayahan sebagai basis sumberdaya penghidupan dan pemerintahan sebagai sumberdaya “manajerial.” Konstitusi adalah sistem nilai bersama yang menjadi preferensi kultural dan referensi tindakan atas hubungan-hubungan tersebut dikonstruksikan. Alam konteks demikian, watak hubungan dalam proses pembelajaran bahwa “semua orang itu guru, semua tempat itu sekolah” dan hak-hak kemanusiaan warga dan rakyat untuk secara intensif mengembangkan dan menguatkan semangat dan jiwa merdeka memperoleh pijakan penghargaan dan penghormatan konstitusional.

Kedua, posisi manusia dan rakyat sebagai subyek dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara luruh dan menyatu dengan melihat 5 (lima) parameter guna pembuktian pemenuhan hak merdeka dan berdaulat. Ini berkait dengan bagaimana rakyat memperoleh jaminan kesejahteraan, akses terhadap sumberdaya bagi perkembangan dan kemajuan, mendapat keleluasaan untuk mengembangkan dan menguatkan kesadaran dan sikap kritis-kreatifnya, keleluasaan partisipatoris dalam beraspirasi, berinisiatif dan menyampaikan kepentingan hidup kewargaannya, serta dapat melakukan kontrol dan meminta pertanggungjawaban sebagai bagian dari hak keberdaulatan rakyat dalam penyenyelenggaraan negara dan pemerintahan. 

Ketiga, penguatan kedaulatan rakyat selalu dilandasi oleh kapasitas keberdayaan rakyat secara perseorangan (manusia) maupun kelompok dan kemasyarakatan. Proses pendidikan yang memerdekakan secara operasional memuati prinsip-prinsip penguatan kapasitas tersebut, yakni: keterampilan kerja, keahlian teknis, kecerdasan pikir, kepekaan jiwa dan ketulusan atau spiritualitas hidup. Untuk mewujudkan ini operasionalisasi pembelajaran dan pendidikan, keempat, prinsipil mengintegrasikan 3 muatan dasar: teknis, teoritik dan pengorganisasian.

Akhirnya, kelima, bagaimana model dan pengalaman pendidikan dan pembelajaran dialogis yang telah dilakukan dan dikembangkan sebagai “enclave budaya” ditengah arus gelombang pendidikan yang pragmatik-materialistik dapat dikaji bersama. Sharing pengalaman dan kajian yang dialogis akan melahirkan pengalaman bersama dan membuka ruang bagi pembangunan model dan pendekatan pendidikan dan pembelajaran yang secara sistemik lebih progresif dan membuka ruang kemerdekaan dan kedaulatan.

Disampaikan untuk Perguruan Rakyat Merdeka sebagai awalan dan bahan diskusi:
“Mencari Format Pendidikan Rakyat Merdeka”

Kediri-Jogja, Des ’04 – Jan ‘05
RP/WG