Thursday, May 10, 2007

Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru

"Sajak untuk Busairi (Bondowoso) dan Mereka (dimana pun) yang terluka dan mati karena lapar dan menjarah panganan"


Yang Mulia, hamba lapar
Seperti juga tetangga hamba mengalaminya
Yang Mulia, isteri hamba belum lagi memasak
Begitu pun dapur-dapur tetangga hamba tidak mengepulkan asap
Yang Mulia, anak-anak hamba menangis belum makan
Sehari-hari karib di telinga hamba rintihan mereka

Berbondong berarak lapar
Hanya sesuap nasi untuk rongga perut hamba sesanak-seperuntungan
Yang belum lagi terisi

Hanya sesuap nasi, Yang Mulia
Bukan sebutir peluru
Bukan pula sebilah sangkur

Sesuap nasi, Yang Mulia
Bukankah tidak lebih berharga daripada
Darah yang meleleh dari lobang di dada ini
Sebutir peluru menembusnya kemarin di sebuah gudang beras

Yang Mulia, hamba terbebas dari lapar
Peluru telah membebaskan hamba dari lapar
Yang Mulia, kabarkan pada isteri hamba harum nasi tanak di periuknya
Sudah lama ia tidak menghirupnya
Yang Mulia, ajarkan anak hamba nyenyak tidur tanpa rintih lapar
Kemarin ia bermimpi tentang semangkuk nasi dan senyanyi dendang


Palu, 14 September 1998

Kami pun tidak membunuhnya

Pada musim tanam padi lalu
Burung-burung pipit menjarah sawah kami
Itu biasa
Sebiasa kami berteriak dan bereka bunyi
Mengusirnya
Tanpa ketapel, tanpa peluru
Tanpa pedang, tanpa parang

Kanak-kanak gembira berlari sepanjang pematang
Bermain
Bernyanyi dan
Menarikan hantu-hantu sawah


Palu, 14 September 1998

Nyanyian Cinta dan Caci-Maki

Aku ingin melagukan
nyanyian cinta dari kedalaman jiwa terluka
untuk kanak-kanak yang terganggu nyenyak tidurnya
untuk kanak-kanak yang terganggu manis senyumnya
untuk kanak-kanak yang terganggu ceria permainannya
untuk kanak-kanak yang terganggu khusuk belajarnya
untuk kanak-kanak yang terganggu oleh lapar di perutnya

Nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka
bukan tentang syair nyiur yang melambai-lambai
bukan tentang lirik angin yang membuai-buai
bukan tentang irama gemericik air yang menyejuki
bukan tentang merdu dendang ibu yang menghangati
bukan tentang denting cangkul bapak yang menapaki

Nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka
adalah ruh kebangkitan fajar pagi
merasuki ayam-ayam jantan, berkokok nyaring
keras dan tegas
melompat dengan kepak sayap-sayap merdeka
meruncing taji-taji berani
menentang matahari, mengibas pekat malam
paruh tajam menghisap pusaran angin
melentingkan suara-suara menggema:
……… bangunlah, bangkitlah…
……… bangunlah, bangkitlah…
……… bangunlah, bangkitlah…

Ayam-ayam jantan, satu per satu
berpuluh-puluh…
beratus-ratus…
beribu-ribu…
berjuta-juta…
berbanjar-banjar, tegak merentang sajap

Kanak-kanak,
rebutlah pagi, kuasai matahari!

Ruh fajar pagi,
Ruh nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka
Melenting
Berontak
Menyusup
Menyetubuhi terang tanah, memancar birahi
Merasuki tegak-tegak jasad anak-anak bumi
……… bangunlah, bangkitlah…
……… bangunlah, bangkitlah…
……… bangunlah, bangkitlah…

Denting-denting cangkul bersimbah keringat
sapaan tanah-tanah digusur, jawaban lahan-lahan tidur
hijau rimbun-rimbun sawah-ladang
kuning masai bulir-bulir padi berisi
bergaris bentang pematang-pematang

Kanak-kanak,
tegakkan nyali, jaga bunda bumi!

Nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka
bersetubuh dengan ruh-nya api
berkobar nyala,
berteriak geram:

“Omong kosong dengan politik
… yang hanya tahu memilah membagi kursi,
… yang hanya tahu berhitung jiwa per jiwa tanpa peduli,
… yang hanya tahu membuta mengoyak-koyak negeri,
… yang hanya tahu menyekat-sekat kepentingan golongan sendiri
Omong kosong dengan politik yang bertampang babi!”

“Lihat, dengar dan pahamkan dengan politik
… tentang kanak-kanak yang tersungkur di pingiran-pinggiran jalan
… tentang kanak-kanak yang merintih kelaparan
… tentang kanak-kanak yang menggigil kedinginan
… tentang kanak-kanak yang kesepian hari depan
Bacalah dan Tindaki!”

Nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka
bersetubuh dengan ruh bengal kanak-kanak
mencaci dan memaki:
“Tailaso, mereka
Cukimai, mereka
… yang mengaku anak-anak negeri dan meneladani
cara merajam tanah ini, menggagahi bunda pertiwi
tanpa hati, tanpa nurani.


Palu, 2 Oktober 1998

RESPUBLICA, engkau dimana?

Respublica, Respublica
Tinta emas nyanyian cinta

Pohon-pohon tanpa Bunga
Bunga-bunga tanpa Putik
Putik-putik tanpa Buah
Buah-buah tanpa Biji
Biji-biji tanpa Tunas
Tunas-tunas tanpa Tumbuh

Tiada tumbuh tanpa Akar
Tiada akar tanpa Tanah

Respublica, Respublica
Tinta emas nyanyian cinta

Terselip di sembunyi tinggi-tinggi gedung
Tumpukan kepala tanpa benak
Penat mimpi-mimpi belaka

Respublica, Respublica
Tinta emas nyanyian cinta

Dimana?



Jakarta, 14 April 1998

Friday, May 4, 2007

“Suluk Marga Dadi”

Rep, sidhem permanem prabawane sepi. Jatine sepi, sepi king pamrih kadonyan. Donyane angkara murka. Angkarane hangrubeda, hangripta papa-cintrakane para sudra. Sudrane kawula nagara gung, bangsa kang yektine luhung.
Rep, sidhem permanem prabawane sepi. Jatine sepi iku suwung. Lung tumelung hangungkungake donga. Dongane lung kang rumambat haneng kekayon. Kekayone urip. Hanungsung mring padane Hyang Agung.
Rep, sidhem permanem prabawane sepi. Jatine sepi king pamrih kamilikan. Dadya rame kang hakarya gawe. Gawene para sudra gumregah hamuwus ambangun negara. Reg. Jejegka jejeg ngadeg. Praja prajane kang sayuk saeka-praya.
Rep, sidhem permanem prabawane sepi. Jatine sepi kang suwung. Lung tumelung nyawiji hambengkas rubeda dadiya marga. Margane marga agung, hanungsung para langkung. Sru tumuju mring gesang hadiluhung.
Rep, sidhem permanem hangawigena mastu. Hamastuti werdining dhiri. Lestari Bumi Pertiwi. Gumregut-gumregah para sudra suwawi asung donga bekti mring Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Lestari raharja manjinga para kawula sudra, sadaya. Dadi.

Yogyakarta, 7 Nopember l999

Jalan Itu Panjang Tak Berujung

Angin…
jaga hirup, hembuskan
Api…
jaga nyala, panaskan
Air…
jaga didih, getarkan

Bunda,
aku masih hidup
Bapa,
aku terus melangkah
Yogyakarta, 18 Pebruari 1998

Caraka 3: “Satriya Lukar Busana”

Satriya lukar busana
nyawiji titah sawantah, kawula dasih
muhing karaharjaning nusa lan bangsa
mahayu-hayuning Bawana

Ha Da Pa Ma
Na Ta Dha Ga
Ca Sa Ja Ba
Ra Wa Ya Tha
Ka La Nya Nga

Sira Wanodya
wadyabala hangesthi puja
mring kayuwanan jati
lestari Bumi Pertiwi

Nga Nya La Ka
Tha Ya Wa Ra
Ba Ja Sa Ca
Ga Dha Ta Na
Ma Pa Da Ha

Hong wilahing sekaring Bawana Langgeng
hayu-rahayu tebih saking sambikala
sagotrah titah raharja


Ngayogyakarta, 1998